Sabtu, 04 September 2010

RAHASIA BERSYAHADAT DALAM ISLAM

RAHASIA SYAHADAT DALAM ISLAM

Melaksanakan Arti dari Kalimat Syahadat
Dalam kehidupan ini, seseorang tidak bisa bebas hidup begitu saja, sesuka hati dengan menuruti keinginannya. Namun hidup ini memiliki aturan yang telah ditentukan oleh yang mengatur kehidupan, Ia adalah Allah SWT. Maka dalam menjalani hidup ini, seseorang tidak pernah lepas dari hubungannya dengan Allah, itulah hubungan ubudiyah atau pengabdian. Dengan sangat jelas Allah mengatakan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.

Hubungan ini didasari kepada tiga unsur penting, yaitu cinta, perniagaan dan amal. Dengan ketiga unsur di atas, setiap muslim menjalani hidupnya. Dengan syahadatain yang diyakininya, seseorang mesti mengamalkan syahadat di dalam kehidupan sehari-hari.

Unsur Pertama yang mesti dimiliki oleh seorang muslim dalam pengabdiannya kepada Allah adalah ia memiliki rasa cinta yang sangat tinggi kepada Allah. Kecintaan seorang muslim kepada Allah SWT harus berada di atas kecintaan kepada siapapun dan suatu apapun. Mendahulukan Allah di atas yang lainnya adalah sebuah perealisasian dari pemahaman terhadap syahadat yang benar. Ketika ada perintah dari-Nya, maka sebagai seorang muslim akan melaksanaakannya dengan penuh keridhoan. Begitu juga sebaliknya, ketika mendapati larangan Allah, dirinya segera menjauhinya dengan penuh ketundukan.

Al-Quran menggambarkan kecintaan seorang mukmin dalam firmannya: “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS 2:165)

Ada unsur lain yang Allah tawarkan kepada orang mukmin dalam pengabdiannya kepada Allah, yaitu berupa perniagaan yang menjanjikan keuntungan yang tak ternilai bagi orang beriman. Karena pada hakikatnya semua manusia itu miskin dan faqir, tidak memiliki sesuatupun termasuk dirinya sendiri. Semua yang ada hanyalah milik Allah SWT. Tetapi dalam perjanjian ini Allah SWT menawarkan kepada mukmin untuk menjual dan mengorbankan apa-apa yang bukan menjadi miliknya itu kepada Allah SWT.

Penawaran Allah SWT untuk berjual beli kepada orang mukmin baik harta atau jiwanya dengan surga yang dimiliki Allah merupakan suatu keuntungan besar yang dapat membawa kebebasan dari neraka. Sebagaimana Allah menjelaskan hal tersebut di dalam Al-Quran: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.” (QS 61:10-11)

Dalam firman yang lain Allah menggambarkan : “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS 2:265)

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang mukmin adalah sebagai penjual, yang dijualnya adalah harta yang dimilikinya, yaitu semua simbol yang melekat pada dirinya dan yang dianggap sebagai miliknya. Seperti harta, kekayaan, kedudukan, kerjanya, pengaruh dan sebagainya. Dan berupa jiwa yang meliputi nyawanya, tenaganya, waktu dan kesempatannya, perasaannya dan lain-lain.

Dalam hal ini Allah SWT sebagai pembeli tunggal yang akan memberikan dua keuntungan yang sangat besar bagi penjual tersebut, yaitu surga dan segala kenikmatannya sebagai pengganti harta yang diberikan Allah. “Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar”. (QS 9 : 111) Hanya orang beriman saja yang bersedia menjual harta dan jiwanya untuk berkorban dan berjuang di jalan Allah SWT.

Orang yang berimanlah yang rela menjual harta, nyawa dan tenaga untuk kepentingan tegaknya Islam di muka bumi ini. Walaupun demikian yang dituju dengan penjualan ini adalah keridhaan Allah SWT sebagai harta tertinggi.

Unsur ketiga dalam pengabdian kepada Allah adalah dengan senantiasa melakukan amal, memberikan apa yang dapat ia lakukan buat agama Allah dan kemuliaan islam. “Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 9:105)

Dengan pelaksanaan cinta, perniagaan dan amal di atas, seorang mukmin menjalani hidupnya. Karena hidup adalah pengabdian. Maka setiap nilai hidupnya adalah ibadah. Ia senantiasa memohon ampunan dari dosa dan menghindarkan diri dari sebab-sebab kemaksiatan. Selalu mengabdikan diri kepada Allah SWT dalam keadaan lapang maupun sempit dengan pengabdian yang ikhlas. Mengagungkan Allah SWT dalam berbagai kesempatan. Senantiasa rukuk dan sujud kepada Allah. Selalu memelihara hukum Allah SWT, yaitu pelaksanaan kitabullah (Al-Quran) pada dirinya dan memperjuangkan ajarannya agar terlaksana di masyarakatnya. Wallahu ‘alam bisshowab.

2. Hal Syahadat
Di dalam Bersyahadat, yang paling penting ialah pekerjaan "Hati". Jangan dibiasakan lain di Bibir, lain di Hati. Ini namanya Munafiq. Sebab zaman sekarang ini, sering kita lihat corak dan ragam manusia yang sudah Brengsek. Lain bicara lain tujuannya. Mereka mengatakan bahwa ia adalah kaum Muslim. Tetapi perbuatannya lebih jahat dari Yahudi. Banyak yang mengatakan bahwa ia adalah Kelompok Islam Murni atau Islam Sejati. Namun Syari’at Islam tidak pernah ia laksanakan. Dan kejahatannya jauh lebih parah dari Setan. Ini semua karena ia tidak memperdulikan pelajaran pokok mengenai Syahadat. Dan tidak mau menelusuri apa arti dari semua yang ditekankan oleh Dua Kalimat Syahadat.
Arti Syahadat ialah : Pengakuan atau Penyaksian yang sebenarnya, yakni Saksi Zahir dan Saksi Batin. Maka dengan demikian wajib bagi kita menghayatinya.

Fardhu Syahadat itu Terbagi Dua
1. Di ikrarkan dengan Lidah.
2. Di Tasdiqkan dalam hati.

Kesempurnaan Syahadat itu Empat
1. Di-Ketahui.
2. Di-Ikrarkan.
3. Di-Tasdiqkan.
4. Di-Yakinkan.

Rukun Syahadat Terbagi Empat
1. Meng-ESA-kan (menetapkan) Zat Allah SWT. Berdiri dengan sendiri-Nya.
2. Meng-ESA-kan (menetapkan) Sifat Allah SWT. Kelakuan dan Kekuasaan-Nya.
3. Meng-ESA-kan (menetapkan) Af’al Allah SWT. Berbuat Sekehendak-Nya.
4. Mengakui (menetapkan) Kebenaran Rasulullah.

Syarat Sah Syahadat ada Empat
1. Hendaklah diketahui atau Mengerti maksudnya.
2. DiIkrarkan dengan Lidah. Dibaca dari awal hingga Akhir.
3. Hendaklah diyakini maksud dan tujuan Syahadat itu (tidak ragu-ragu).
4. Yakin serta di ’Amalkan dengan anggota Tubuh dan Hati dan dengan Perbuatan. Dan wajib menolak segala yang bertentangan dari maksud Dua Kalimah Syahadat tersebut.

Dua Kalimah Syahadat mengandung arti Persetujuan. Pengakuan. Dan Keyakinan. Karena itu setiap Insan yang mengaku ia adalah orang Muslim, sudah tentu ditekankan kepadanya suatu Keyakinan dalam Hatinya kebenaran apa yang mereka akui tersebut. Maka jika hanya pengakuan Lidahnya saja, tetapi bertentangan dengan Hatinya. Maka orang yang demikian itu dinamakan melafazkan Pengakuan Dusta. Bahasa kasarnya adalah Munafiq.

Yang Membinasakan Syahadat itu Terbagi Empat
1. Menduakan/Menyekutukan/Mensyarikatkan Allah.
2. Ragu di dalam Hatinya kepada Allah Ta’ala.
3. Menyangkal Bahwa dirinya dijadikan Allah Ta’ala.
4. Tidak meng-Isbatkan (meyakini) Kekuasaan Allah.

Nama Syahadat itu Terbagi Dua
1. Syahadat Tauhid.

أَ شْـــهَــدُ اَنْ لاَ إِ لـــــهَ إِ لاَّ الـلّــــــــــــهُ

"Aku Mengakui (dengan Haqqul Yaqin)
Bahwa tiada Tuhan Selain Allah".

2. Syahadat Rasul.

وَ أَ شْــهَــدُ أَنَّ مُحَـــمَّـــدً ا رَّ سُــوْ لُ الـلّـــــــــهُ

"Aku Mengakui (dengan Haqqul Yakin)
Bahwa Muhammad adalah utusan Allah".

Seseorang yang mengucapkan Dua Kalimah Syahadat, berarti Orang tersebut telah mengucapkan Kalimah Sakral. Kalimah Sumpah. Kalimah janji setia kepada Agama Islam yang direstui Allah SWT. sesuai dengan arti Firman Allah Ta’ala :
شَهِدَ الـلّــهُ اَ نَّــه لاَ اِلـــهَ اِلاَّ هُــوَ، وَ الْـمَـلــئِــكَـــةُ وَ اُولُــواالْــعِــلْــمِ
قَـآئِــمًابِـالْــقِـسْــطِ لاَ اِلـــــــهَ اِلاَّ هُـــوَ الْــعَـــزِ يْـــزُ الْحَـكِــيْـمُ اِنَّ الـدِّ يْـنَ عِــنْـدَ الـلّـــــهِ اْلإِ سْـــلاَ مُ …

“Allah memastikan bahwa :”Tidak ada Tuhan selain dari DIA”. Dan para Malaikat serta orang-orang yang ber’ilmu (Mengakui-Nya). Allah menegakkan keadilan. “Tidak ada Tuhan yang lain”. Hanya DIA Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
“Sesungguhnya Agama yang diterima di sisi Allah adalah (Agama) Islam”. (Q.S. Ali-Imran : 19)

Demikian kalimat Tauhid yang kita dapati di dalam Al-Qur-aan. Maka sangat jelas bagi seorang Muslim yang telah bersumpah dan berjanji setia. Tidak baik jika hanya setengah-setengah, alias hanya meng-imani sebagian ayat. Tetapi menolak sebagian Ayat yang lainnya. Dan meng-imani sebagian Hadits, tetapi tidak mau meng-imani Hadits yang lainnya.
Belum cukup hanya dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat saja, tetapi Wajib bagi Muslim berbuat sesuai dengan isi kandungan apa yang telah di ikrarkannya tersebut. Bukan hanya ucapan sebagai kembang bibir saja, tetapi ikut Hatinya menerima dan melaksanakan apa saja kandungan makna yang diperintahkan Allah SWT di dalam Dua Kalimah Syahadat tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar